30 Juni 2009

Gelapkan Duit, Krisna Mukti Dibui

By Line: dedy kurniawan ----

Pembawa acara sekaligus Pesinetron, Krisna Mukti akhirnya harus menikmati pengapnya sel tahanan. Krisna Mukti ditahan jaksa penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara karena diduga kuat terlibat kasus penggelapan uang sebesar 365 juta rupiah. Krisna ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih sembilan jam.

Proses pemeriksaan terhadap Krisna Mukti sendiri berlangsung sejak pukul 08.00 wita di ruang Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Setelah sembilan jam diperiksa, sekitar pukul 16.30 wita, Krisna Mukti dengan pengawalan polisi, langsung dibawa jaksa penyidik ke Rumah Tahanan Punggolaka Kendari.

Setibanya di Rutan Punggolaka, Krisna yang menolak menjawab pertanyaan wartawan bergegas masuk ke ruang administrasi untuk menjalani registrasi sebagai penghuni baru di rumah tahanan kelas 2 tersebut.

Terkait penahanan tersebut, Pengacara Krisna Mukti, Adnan Assegaf mengaku sangat keberatan dan kecewa dengan sikap kejaksaan. Menurutnya, kliennya telah dijebak oleh jaksa penyidik.

Jaksa penyidik menyatakan, Krisna Mukti ditahan karena dari hasil pemeriksaan, bintang iklan sabun Sunlight tersebut diduga kuat terlibat dalam kasus penggelapan uang.

Krisna Mukti menjadi tersangka kasus penggelapan uang. Namanya ikut disebut dalam kasus penggelapan uang yang dilakukan seorang pria bernama Yoyon, yang sejak lima bulan lalu telah divonis dan mendekam di sel Lembaga Pemasyarakatan Kendari.

Kejadian bermula saat Yoyon berkenalan dengan Krisna dan kemudian terlibat kerja sama dalam sebuah acara, yaitu Krisna sebagai pembawa acara dan tampil bernyanyi di acara Yoyon.

Belakangan, Krisna dituduh menerima aliran dana yang digelapkan Yoyon. Hasil penyidikan polisi, aliran dana ini masuk ke dalam rekening pribadi Krisna.

29 Juni 2009

2010, Listrik Indonesia Tak Pakai Diesel

By Line: dedy kurniawan ---

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, mulai tahun depan system kelistrikan di
Indonesia akan beralih menggunakan batubara, tenaga matahari dan geothermal sebagai tenaga utama pembangkit listrik. Hal tersebut dinyatakan Kalla dalam kunjungan kerjanya di Kendari, Sulawesi Tenggara, siang tadi.

Menurut Wakil Presiden, pengalihan tersebut merupakan jawaban atas krisis tenaga listrik yang dialami indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

Wakil Presiden mengatakan, penggunaan mesin diesel yang selama ini menjadi andalan utama sebagai penyuplai tenaga listrik telah menyedot anggaran pemerintah yang sangat besar.

Sepanjang tahun 2008, kata Kalla, subsidi yang diberikan Pemerintah Indonesia dari dana Anggaran Pembangunan dan Belanja Nasional (APBN) untuk membiayai sektor kelistrikan di Indonesia mencapai kurang lebih 90 triliun rupiah.

Dalam penjelasannya tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sempat mengkritik kinerja sejumlah pihak di kabinet persatuan yang dianggapnya lambat mengambil keputusan terkait penanganan krisis listrik di Indonesia. Hanya saja, Kalla tak menyebut siapa pihak yang ia maksud.

Selain soal kelistrikan, Jusuf Kalla juga sempat menjelaskan berbagai kebijakan Pemerintah Indonesia terkait pengelolaan rotan dan sektor pertambangan, termasuk optimalisasi penggunaan aspal Buton sebagai bahan baku utama pembangunan jalan di Indonesia.

27 Juni 2009

Belajar Dari Ahmadinejad…

By Line: Jusuf Kalla ----
Mahmod Ahmadinejad adalah seorang pemimpin yang tidak hanya dicintai oleh rakyat Iran, namun oleh seluruh dunia. Beliau adalah jawaban dari kebuntuan negara Timur Tengah dalam menghadapi kecongkakan Israel. Saya ingat betul, bagaimana ketika Ahmadinejad berkjunjung ke Indonesia pada tahun 2006 silam, ribuan rakyat Indonesia mengeluk elukan dia. Seolah olah dia adalah Presiden Indonesia itu sendiri. Ini bukan cemburu terhadap Mahmod Ahmadinejad, tapi saya banyak belajar dari dia, tentang kesederhanaan dan keikhlasan dalam memimpin.

Dalam beberapa hal saya dan Ahmadinejad punya banyak kesamaan, kami sama-sama pejabat Rendah karena baik saya dengan dia bertubuh pendek namun lincah dalam bergerak. Sama-sama pejabat karir, kalau dia memulai karirnya dari pasukan garda Revolusi, menjadi dosen, menjadi walikota kemudian menjadi Presiden. Maka saya memulai karir saya dari Manager, Direktur Utama, Komisaris perusahaan Kalla Group, Menteri, Menko, Wakil Presiden dan Insya Allah Presiden. Kami sama-sama juga tidak suka hal-hak yang bersifat protokuler yang kadang memisahkan pemimpin dari rakyatnya. Dan mungkin yang jarang anda ketahui bahwa kami sama sama pejabat negara yang juga menjadi blogger. Bedanya dia jarang update blognya saya jarang balas komentar, tapi saya rasa anda semua maklum.

Baru-baru ini untuk kedua kalinya Ahmadinejad terpilih kembali menjadi Presiden Iran untuk kedua kalinya. Ini adalah bukti bahwa rakyat Iran membutuhkan type kepemimpinan yang bertekad untuk membuat bangsanya menjadi mandiri, tidak bergantung dengan bangsa lain, dan menjadikan dia bangsa yang bermartabat. Berani berkata tidak terhadap segala intervensi asing. Untuk itulah kita harus banyak belajar dari Ahmadinejad, seorang pemimpin yang sederhana, berkarakter kuat dan tidak perlu citra. Berani mengambil keputusan yang tidak populis demi kepentingan bangsanya.

Surat Suara Pilpres Rusak


Puluhan lembar surat suara untuk pemilu presiden di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ditemukan dalam keadaan rusak. Kondisi ini membuktikan pengadaan logistik surat suara pada pemilu presiden tak jauh berbeda saat pemilu legislatif digelar bulan April lalu.

Uniknya lagi, rata-rata kerusakan pada puluhan lembar surat suara tersebut berada persis di bawah atau di atas foto pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Mega – Prabowo.

Geger Video Porno Pelajar Kolaka

Dalam dua hari terakhir, warga di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dibuat geger dengan tersebarnya sebuah rekaman video amatir dua pelajar yang masih mengenakan seragam sekolah dan tengah berbuat mesum.

Gambar mesum dua pelajar ini diduga direkam menggunakan kamera ponsel. Dalam rekaman berdurasi sekitar 6 menit itu nampak dua orang pelajar berlainan jenis tengah berhubungan intim layaknya pasangan suami istri di sebuah kamar.
video

15 Juni 2009

Ya Ampun, Dangdut Erotis Depan Masjid


Acara dangdut yang diisi penampilan seronok penyanyi berlangsung depan sebuah masjid di Serang, Banten, nyaris dibubarkan namun karena pembubaran tidak mempunyai dasar hukum maka polisi hanya memberikan imbauan.

"Apa dasar hukumnya acara itu dibubarkan?" kata Kepala Satuan Intelijen (Kasat Intel) Polres Serang, Edi Gultom disela acara pentas dangdut di Desa Lebak Gempol Kecamatan Cipocok,Kota Serang Minggu (13/6) dini hari.

Polisi mengaku tidak membubarkan acara dangdutan yang menampilkan biduan berpenampilan seronok di pesta pernikahan anak seorang Ketua RW di Desa Lebak Gempol karena tidak ada peraturan daerah yang melarang pentas dangdut depan Masjid. "Kami bertindak selalu berpedoman pada hukum yang berlaku. Kalau kami dibubarkan dan pemilik hajat protes lalu menuntut kami, kami harus jawab apa?" tanyanya.

Kasat Intel Polres Serang mengungkapkan, penyelenggara hajat sudah mengantongi izin mengadakan pentas dangdut dari aparat kepolisian Polsek Cipocok, dan meski di depan masjid tidak ada satupun warga berkeberatan dengan acara itu. "Kalau Pemerintah Kota Serang sudah punya perdanya, kami akan menertibkan, jangan undang-undang lah, perda aja dulu," kata Edi.

Dari pantauan ANTARA, pentas dangdut itu tepat diselenggarakan depan Mesjid Desa Lebak Gempol, sebelum aparat kepolisian menegur penyanyi agar sopan berpenampilan, termasuk dalam berpakaian.

Para biduan dangdut tersebut mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan dengan memakai celana panjang dan tarian mereka pun tidak sensual lagi. "Maaf para penonton, saya goyangannya sedikit saja, tadi tidak boleh bergoyang panas panas," kata seorang biduan dari atas panggung kepada para penonton yang umumnya anak-anak dan remaja.

Namun setelah polisi dan Satpol PP meninggalkan pesta itu, para biduan itu memakai lagi pakaian yang memamerkan auratnya, sementara anak-anak yang semula menjauhi panggung kembali merapat ke panggung berukuran 6X8 meter itu. (KOMPAS.COM)

Manohara Hadiri Kampanye JK-Wiranto


Kampanye dialogis calon presiden Jusuf Kalla di Cilincing kemarin sangat istimewa. Kampanye yang digelar di bengkel alat-alat berat itu tidak hanya dihadiri ratusan pemulung, guru, dan tukang ojek, namun jugga dihadiri model Manohara Odelia Pinot dan ibunya, Deasy Fajarina.

Manohara hadir ketika Jusuf Kalla dan Mufidah tengah melakukan syuting program JK Pemimpin Rakyat yang akan ditayangkan di salah satu televisi swasta. Mano yang mengenakan baju lengan panjang abu-abu dan kacamata hitam datang bersama puluhan anggota Laskar Merah Putih yang berbaju hitam-hitam.

Kehadiran mantan istri pangeran Kelantan itu mengejutkan peserta kampanye. Puluhan orang segera merubung Mano dan berebut minta jabat tangan. Karena situasi semakin memanas, petugas langsung mengungsikan Manohara dan ibunya ke dalam kontainer yang dijadikan kantor perusaan distribusi alat-alat berat tersebut. Manohara dan Deasy hanya sempat bersalaman sekilas dengan Jusuf Kalla dan Mufidah sebelum keduanya masuk ke bus.

Juru Bicara Tim Kampanye JK-Wiranto, Indra Jaya Piliang menuturkan, Manohara datang sebagai anggota masyarakat yang mendukung JK-Wiranto. Kedatangan Manohara juga bukan kali pertama, karena Manohara juga pernah menonton film Ketika Cinta Bertasbih bersama tim kampanye JK-Wiranto. ’’Sayang, waktu itu Manohara tidak bertemu Pak Jusuf Kalla dan Bu Mufidah,’’ tuturnya.

Sebagai figur yang disorot berbagai media massa akhir-akhir ini, Indra menilai, dukungan Manohara berdampak positif terhadap pasangan JK-Wiranto. Manohara diperlakukan sama seperti ratusan artis yang mendukung pasangan JK-Wiranto. ’’Kami belum berfikir untuk menjadikan Manohara sebagai salah satu ikon kampanye,’’ tuturnya.(Kendari Pos - Senin, 15 Juni 2009)

14 Juni 2009

Bajo yang Resah pada Masa Depan...


Sampan-sampan kecil seakan tidak berhenti berlalu lalang melintasi kanal-kanal dengan lebar sekitar 1,5 meter yang mengitari permukiman warga suku Bajo di daerah Wanci, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Anak-anak serta perempuan dan lelaki dewasa lincah mengayuh sampan langsing sambil membawa beragam barang, mulai dari galon air, karang, hingga pasir putih.

Bangunan rumah panggung di atas air yang ditopang batu karang menjadi pemandangan khas permukiman warga suku Bajo di Kampung Mola, Wangi-Wangi. Komunitas yang dikenal sebagai pengembara laut itu menjadi bagian dari penghuni Kepulauan Tukang Besi—sebelum berubah nama menjadi Wakatobi, singkatan dari gabungan nama empat pulau utama di sana: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko—yang mengandalkan hidup dari laut. Mereka tersebar di beberapa tempat seperti di Pulau Wangi- Wangi dan Kaledupa.

Warga Bajo yang tidak bisa terpisahkan dari laut itu menjadi komunitas yang unik, yang mencoba untuk terus bertahan dalam perkembangan zaman, termasuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang tak lagi sepenuhnya bisa mengandalkan laut..

Resah
Keresahan sempat terungkap dari warga Bajo di kampung itu. Soal pemanfaatan laut yang tidak lagi sebebas dulu, misalnya, menjadi ancaman bagi mata pencaharian warga yang umumnya menjadi nelayan secara turun- temurun.

Dikeluarkannya zonasi Taman Nasional Wakatobi pada pertengahan tahun 2007 adalah pangkal kekhawatiran akan masa depan penghidupan warga Bajo. Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Pemerintah Kabupaten Wakatobi serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi untuk membatasi daerah yang bisa dimanfaatkan dan yang tidak.

Peta zonasi Taman Nasional Wakatobi itu membagi perairan Wakatobi menjadi enam zona, yakni zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, pemanfaatan umum, dan zona daratan/khusus. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum.

Nelayan Bajo pun semakin tersudut dengan adanya upaya penguasaan laut oleh segelintir orang-orang yang mampu ”bermain mata” dengan aparat. Para nelayan lokal hanya bisa memanfaatkan zona pemanfaatan lokal. Adapun nelayan daerah lain, asalkan mengantongi izin, bisa mencari ikan di zona pemanfaatan umum.

Udin Konseng, salah satu anggota pengade lima atau dewan adat, merasakan betul adanya sistem zonasi itu membuat nelayan Bajo menjadi terbatas untuk bisa mencari hasil tangkapan dari laut. Tak ayal lagi, pendapatan pun menjadi berkurang. Warga Bajo yang memang mengandalkan hidup dari laut pun menjadi resah, mengingat inilah keahlian utama yang diwariskan kepada mereka, terutama bagi kaum lelaki suku Bajo.

Adapun perempuan Bajo juga turut berperan membantu para suami untuk menghidupi keluarga. Mereka mencari batu karang dan pasir putih, mengangkutnya dengan sampan untuk dijual kepada warga yang hendak membangun rumah. Namun, kini perlahan-lahan mata pencaharian itu pun terancam karena larangan yang semakin tegas untuk tidak mengeksplorasi laut secara berlebihan.

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengemukakan, pemerintah perlu mengkaji ulang pengelolaan taman nasional laut yang belum melibatkan nelayan dan masyarakat pesisir. Pasalnya, pengelolaan taman nasional laut saat ini masih kaku dan menciptakan zonasi yang menutup ruang gerak nelayan.

Pemanfaatannya untuk wisata bahari juga memutus wilayah tangkap nelayan dan mengesampingkan peran masyarakat pesisir. Padahal, pemanfaatan kawasan konservasi wajib memberikan nilai ekonomis bagi nelayan dan masyarakat pesisir di sekitarnya.

”Pemanfaatan kawasan konservasi laut dan wisata masih kerap meminggirkan mata pencarian nelayan. Diperlukan pengelolaan yang dapat mempertahankan hak-hak nelayan dan masyarakat,” ujar Arif.

Budaya
Kehidupan masyarakat Bajo tak ubahnya seperti kehidupan kaum nelayan pada umumnya. Wajah kemiskinan terpancar di perkampungan mereka. Pendidikan belum menjadi prioritas utama suku ini. Banyak anak usia sekolah yang tidak menyelesaikan pendidikan di tingkat dasar.

Akan tetapi, bukan berarti tidak ada orang-orang berpotensi dari suku Bajo. Nyatanya, ada saja warga suku asli Bajo yang berkiprah di pemerintahan. Tentu saja keberhasilan itu terbuka bagi mereka yang serius menimba ilmu selama di bangku sekolah.

”Kemajuan komunitas suku Bajo juga menjadi perhatian pemerintah,” kata Hugua, Bupati Wakatobi. Keberadaan suku Bajo, kata Hugua, juga bisa memperkaya potensi wisata bahari Wakatobi. Keunikan perkampungan Bajo dan budaya masyarakat diyakini bisa semakin menambah daya tarik wisata di daerah ini. ”Tentu, masyarakat Bajo harus mendapat manfaatnya,” tambahnya.

Menurut Udin, keberadaan orang-orang suku Bajo yang menetap di Kampung Mola terjadi sekitar tahun 1950. Mereka pindah dari komunitas awal di Pulau Kaledupa. Pangkal persoalannya karena ada warga suku Bajo yang sempat dituduh terlibat gerakan DI/TII.

”Ada ulama kami yang tewas, padahal kami tidak tahu apa-apa. Maka, kami pindah ke sini,” cerita Udin.

Yang menarik dari arsitektur kampung suku Bajo adalah mereka harus menyediakan jalur-jalur perahu sebagai alat transportasi utama. Di lokasi permukiman suku Bajo, warga akan hilir mudik berperahu di sekitar perkampungan mereka.

Soal budaya, ada keresahan terancamnya tradisi yang sebenarnya sudah melekat lama dalam komunitas itu. Tembang yang menceritakan asal usul dan kehidupan warga Bajo di laut yang disebut Iki Ko kini tak terdengar lagi di kampung itu. ”Nyanyian itu sudah jarang dilantunkan dari orangtua kepada anak- anaknya. Hanya ada beberapa orang yang menyanyikannya saat upacara adat,” kata Udin.

Selain Iki Ko, masyarakat Bajo di Mola juga mengenal apa yang mereka sebut tradisi duata dan tuli kaka. Ritual duata dan tuli kaka adalah ritual pengobatan tradisional. Biasanya, ada dua sanro (dukun) yang menyelenggarakan ritual itu.

Masyarakat laut yang kini mulai ”didaratkan” itu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan komunitasnya. Mereka perlu dibantu tanpa harus mencerabut dari akar budayanya yang memang tak bisa lepas dari laut.

Outline: ESTER LINCE NAPITUPULU
Sumber: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/05/ 03551894/ bajo.yang. resah.pada. masa.depan. ..

13 Juni 2009

Kampanye SBY di Kendari


By Line : dedy kurniawan ----

Calon presiden dari Partai Demokrat, Soesilo Bambang Yudhoyono saat berkampanye di Kendari, Sulawesi Tenggara, mengajak masyarakat di daerah itu untuk kembali memilih dirinya pada pemilu presiden tanggal 9 Juli mendatang.

SBY menyatakan, jika ribuan masyarakat Sulawesi Tenggara yang hadir dalam kampanyenya yang digelar di Gedung Olah Raga (GOR) Kendari memilih dirinya kembali, pembangunan yang sudah hampir lima tahun ia lakukan akan bisa dilanjutkan kembali.


Selain mengajak masyarakat memilih dirinya, dalam kampanye tersebut SBY lebih banyak bicara soal keberhasilan-keberhasilan selama dirinya menjadi presiden hingga saat ini. Meski demikian, ia juga mengakui masih banyak kekurangan dan hal-hal yang belum sempat dilakukan selama ia memerintah hampir lima tahun.

Tak jelas apakah bermaksud menyindir dua calon kompetitornya, SBY menyatakan bangga dengan masyarakat Sulawesi Tenggara yang mau memilih calon presiden yang mampu memberikan bukti bukan hanya janji.

11 Juni 2009

2010, Sultra Jadi Pusat Pertambangan Nasional


H Nur Alam SE, Gubernur Sulawesi Tenggara mengatakan, tahun 2010, Sulawesi Tenggara akan dijadikan pusat industri pertambangan nasional. Menurutnya, dari segi sumberdaya alam, Sultra bisa mewujudkan ini.

"Kita punya tambang emas dengan kisaran kandungan 1 juta ton. Aspal Buton 670 ribu juta ton, kalkulasinya 500 tahun kedepan tidak akan habis, lalu Nikel dengan kandungan miliyaran juta ton. Belum lagi tambang mineral lainnya. Dengan kondisi ini, kita bisa wujudkan Sultra untuk bisa menjadi pusat industri tambang nasional," ujarnya.

Saat ini kata Nur Alam, Pemprov Sultra sedang merancang bagaimana mewujudkan program ini. Menuju kesana, banyak rambu-rambu yang dilalui. Salah satunya katanya, menurunkan status kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi dengan luasan sekitar 400 ribu hektar lebih yang tersebar di 10 kabupaten/kota se-Sultra.

"Penurunan status kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi sedang dalam proses. Jika ini bisa terwujud, maka Sultra akan segera menjadi pusat industri tambang. Dengan catatan tidak akan mengabaikan lingkungan," jelasnya.

Bambang Suroso, anggota DPD-RI asal Bengkulu, juga ketua tim kerja Pemberdayaan Aspal Buton, ketika melakukan tatap muka dengan Gubernur Sulawesi Tenggara belum lama ini, memuji potensi tambang Sultra.

Bahkan katanya, jika potensi tambang ini dikelola dengan baik, tidak hanya bisa mensejahterakan masyarakat Sultra yang jumlah penduduknya hanya 1,2 juta lebih, tetapi bisa membayar hutang Indonesia diluar negeri.

"Sultra, adalah provinsi yang luar biasa. Potensi alamnya sangat hebat. Jika dikelola baik, hutang Indonesia akan terbayar habis," puji Bambang.

Ia meminta gubernur Sultra, dalam mengelola sumber daya alam, selalu memikirkan kepentingan rakyat. Jangan seperti zaman dulu katanya, mengelola hasil alam tetapi lari keluar negeri. "Saya berharap gubernur tidak salah langkah dalam mengelola tambang," tambahnya.

Sekretaris Komisi B DPRD Sultra Yaudu Salam Ajo mengingatkan pemprov Sultra tentang persoalan ini. Ia mengatakan, salut dengan program ini. Hanya saja katanya tidak juga mengabaikan potensi lain, seperti Pertanian, Perkanan dan Perkebunana, yang justru lebih ramah lingkungan.

"Kita berharap, dengan semakin gencarkan gubernur mengumumkan Sultra akan dijadikan pusat isndustri pertambangan nasional, potensi lain diabaikan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan gubernur, jika memang ini terwujud, maka yang harus dilakukan adalah mempersiapkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Pemprov Sultra, agar jelas, dimana industri-industri tambang akan dibangun. Ini juga penting katanya, agar tidak tumpang tindih dengan RTRW nasional.

ehem...saya dapat award nih

Dua hari lalu, saya dapat info kalo blog ini mendapatkan award. Awalnya sih saya ragu. Masak sih, blog yang umurnya belum setahun bisa dapat award.

Iseng-iseng saya coba ikut petunjuknya, nggak taunya bener. Seorang teman pengelola belajarbisnismania.blogspot memberi saya award persahabatan.

Terima kasih banyak ya. Ternyata, meski tak pernah bertemu muka secara langsung, paling tidak award ini makin mempererat hubungan persahabatan kita. Formal banget ya, tapi itulah yang mau saya sampaikan.

Sekali lagi terima kasih atas awardnya...

09 Juni 2009

Pemerintah Bombana Kosongkan Kawasan Tambang Emas


By Line : dedy kurniawan ----

Ribuan penambang emas tradisional di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, dipaksa keluar dari lokasi tambang menyusul rusaknya sumber air dan kawasan hutan di sekitar kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Para penambang ini khawatir dengan ancaman penyitaan peralatan tambang yang dilontarkan oleh tim penertiban.
Tak hanya itu, tim penertiban juga mengancam akan memproses hukum setiap penambang yang menolak ditertibkan dan masih ditemukan mencari emas di sekitar lokasi tambang

Kondisi berbeda terjadi di lokasi tambang emas Ububangka, Kecamatan Rarowatu Utara. Di tempat ini, tim penertiban masih menemukan puluhan penambang emas tradisional sedang mendulang emas. Saat diperiksa, tak satu pun dari puluhan penambang ini yang mengantongi ijin menambang dari Pemda Bombana.

Akibatnya, seluruh peralatan menambang milik mereka seperti kuali, pacul dan sekop langsung disita tim penertiban. Tak hanya itu, tim penertiban juga merobohkan gubuk-gubuk yang didirikan para penambang.

Para penambang mengaku, sebenarnya mereka sudah mengetahui penertiban dan larangan memasuki kawasan tambang, namun mereka sengaja tak memperdulikannya. Alasannya, dana yang mereka keluarkan belum sebanding dengan hasil yang mereka dapat.

02 Juni 2009

Dosen Paksa Mahasiswa Minum Urine

By Line : dedy kurniawan ---

Seorang dosen Akademi Keperawatan di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara, memaksa puluhan mahasiswanya mencium dan meminum urine.

Kejadian ini berawal ketika seorang mahasiswa di sekolah calon perawat tersebut dituduh telah kencing di mobil pimpinan sekolah tersebut.

Oleh Asmana, dosen pengajar etika keperawatan, menyuruh mahasiswa bernama Aslin untuk mengeluarkan urinenya di dalam kelas. Urine yang disimpan di sebuah gelas plastik tersebut lalu ditaruh di meja si dosen.

Satu persatu mahasiswa dipanggil lalu dipanggil oleh Asmana dan dipaksa mencium bau urine tersebut. Sementara mahasiswa pemilik urine itu sendiri dipaksa meminum urine tersebut.

Peristiwa itu kemudian memicu demonstrasi mahasiswa. Pihak DPRD Kabupaten Konawe bahkan sampai datang ke kampus Akademi Keperawatan untuk memeriksa kebenaran kasus tersebut.

Pemerintah Kabupaten Konawe bertindak cepat. Dosen yang memaksa mahasiswa mencium dan meminum urine itu kemudian diberhentikan. Tak hanya itu, dosen tersebut juga ditunda kenaikan pangkatnya dan dimutasi ke daerah terpencil.

Polisi sendiri kemudian segera melakukan penyelidikan. sebanyak 17 saksi yang diperiksa polisi, semuanya membenarkan perisiwa tersebut. Akibatnya, dosen pelaku pelecehan terhadap mahasiswa itu langsung dimasukkan ke penjara oleh polisi.

TEKNIK PENULISAN KOLOM


By Line : Farid Gaban ---

Mencari ide tulisan
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika
memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu
menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa
kita perlu mencarinya.

Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk
mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat
pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus.
Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek.

Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan
arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-
dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada
catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang
lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang
diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk
setiap tema yang ditulisnya:

- Dialog (Umar Kayam)
- Reflektif (Goenawan Mohamad)
- Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
- Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah
ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma
ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan
Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah
peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah
rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita
menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang
hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot
atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau
bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali.
Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi
membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan
sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong
pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses
membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan
(otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan
tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.

Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati
keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya
satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang
sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media.

“MENJUAL” KOLOM KE MEDIA
Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan
Anda?
Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat
memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis
baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang
“punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan
mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak;
mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan
menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis
untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.

Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa
menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis
adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.

Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda
menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang
yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.

Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup
populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor
dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh
dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.

BAHAN BACAAN LANJUTAN
Teknik Penulisan
- Argumentasi dan Narasi (Gorys Keraf)
- Yuk, Menulis Cerpen, yuk (Mohammad Diponegoro)

Catatan Harian dan Korespondensi
- Catatan Harian Soe Hok Gie
- Surat-surat Iwan Simatupang
- Catatan Harian Ahmad Wahib

Kumpulan Esai
- Catatan Pinggir dan Kata, Waktu (Goenawan Mohamad)
- Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih tanpa Banda (Umar Kayam)
- Faisal Baraas (Beranda Kita)
- Puntung-Puntung Roro Mendut (YB Mangunwijaya)

Kumpulan Cerpen
- Orang-orang Bloomington (Budidarma)
- Lukisan Perkawinan (Hamsad Rangkuti)
- Odah (Mohamad Diponegoro)
- Leak (Faisal Baraas)
- Tegak Lurus Dengan Langit (Iwan Simatupang)
- Bromocorah (Mochtar Lubis)

Kolom: “Esai dengan Gaya”


Farid Gaban | Pena Indonesia Learning Center ---

PENGANTAR

Dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya
dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi.
Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak esai
atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:
- OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.
- SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan
itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”.
- PERSUASIF: memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar
paparan “apa adanya”. Dia dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar
mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang
diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survai
media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit
pembacanya. Ada beberapa alasan:

- SERIUS dan PANJANG: orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau
serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru
bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak
jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin
bergengsi. Keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.

- KERING: banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”,
karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah
bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor dan tanpa bumbu.

- MENGGURUI: banyak tulisan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah,
berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.

- SEMPIT: tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya
(mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun
pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu
banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca
lebih luas untuk menikmatinya.

KOLOM: “ESSAY WITH STYLE”
Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah
menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah,
ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh
menjadi tulisan murahan.

Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang,
seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca.
Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di
koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi
juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor,
menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.

Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan
para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre”
baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif.

Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog,
narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda
dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga
memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema
yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti
itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (“style”) serta personalitas si penulis.

Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada
keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom
koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).

PENULISAN KOLOM INDONESIA
“Creative non-fiction” bukan “genre” yang sama sekali baru sebenarnya. Pada
dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang
handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam
tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.

Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB
Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid,
Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib.

Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain
yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno
(manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta
Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).

Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga
sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas
(seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis
cerpen di koran.

Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali
Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di
Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an sudah berhenti menulis
(Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).

Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun
inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib
Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen.

Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis
esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro
Adjidarma adalah pengecualian.

Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan
melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi.

TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM
Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi
antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang
Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati
seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel
kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang
mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang
lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan
teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan
sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara”
keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca
referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan
eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka
tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali.
Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana
mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk
pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau
jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi,
metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens
dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di
pasar?

Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia
bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan
berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).

Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan
seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah
kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek
kemanusiaan pada umumnya.

Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah
melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis
yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia
bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa
saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood),
mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal,
tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di
buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya
disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori,
metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.

APA SAJA YANG BISA DIJADIKAN TEMA ESAI?
Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku
dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang
membuat penulis menjadi memiliki gengsi.

Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan
diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema
kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun.
Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja.
Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut
penulis-penulis spesialis.

- Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
- Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
- Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
- Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
- Media dan Telekomunikasi
- Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
- Kimia dan Fisika Terapan
- Elektronika
- Otomotif
- Perilaku dan gaya hidup
- Keluarga dan parenting
- Psikologi dan kesehatan
- Arsitektur, interior, gardening
- Pertanian dan lingkungan

Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti
perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.